Networkpedia.id – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Jwalita Energi Trenggalek (JET) menjadi sorotan Komisi II DPRD Trenggalek dalam rapat evaluasi.
Sorotan tajam ini muncul akibat rendahnya kontribusi perusahaan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), meski omzet penjualan mencapai puluhan miliar rupiah.
Ketua Komisi II DPRD Trenggalek, Mugianto, menilai kinerja PT JET yang mengelola SPBU di kawasan Terminal Tipe A Surodakan tidak sebanding dengan besarnya penyertaan modal dari pemerintah daerah.
Sejak berdiri, BUMD ini telah menerima suntikan modal sebesar Rp11 miliar, namun hanya menyumbang PAD sekitar Rp124 juta per tahun.
“Menurut hitung-hitungan, kami tidak untung tapi buntung. Ini perlu dievaluasi, baik direksinya maupun bagian perekonomian. Kita ingin sektor ini bisa menyumbang PAD tanpa membebani rakyat,” ujarnya.
Mugianto mengungkapkan, omzet tahunan PT JET mencapai Rp60,9 miliar, dengan margin keuntungan sekitar 3,7 persen.
Secara teoritis, laba bersih per tahun bisa menyentuh angka Rp2,2 miliar. Namun, realisasi PAD yang masuk ke kas daerah justru jauh di bawah potensi tersebut.
“Kalau kita lihat dari laporan arus kas, rasanya tidak masuk akal kalau keuntungan bersih hanya sekitar Rp100 juta. Ini jelas ada masalah dalam manajemen,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Direktur PT JET, Mardianto Harahap, menjelaskan bahwa rendahnya setoran PAD disebabkan oleh tingginya angka kerugian akibat penyusutan (losses) bahan bakar, yang mencapai Rp200 hingga Rp300 juta per tahun. Ia juga menyebut bahwa peralatan dispenser sudah tua dan perlu diganti.
“Kami butuh tambahan modal Rp1,6 miliar untuk peremajaan alat dan tambahan modal kerja. Kalau itu dipenuhi, kami optimistis bisa menyetor PAD Rp120 sampai Rp200 juta ke depannya,” kata Mardianto.
Ia menambahkan, dari total kebutuhan penyertaan modal sebesar Rp35 miliar, perusahaan baru menerima Rp11 miliar.
Saat ini, kas tunai yang tersedia hanya sekitar Rp1 miliar, yang dinilai tidak cukup untuk menopang operasional secara optimal.




