Ratusan Hektare Sawah di Trenggalek Diserang Hama Wereng, Puluhan Hektare Gagal Panen

Photo of author

By Redaksi

Networkpedia.id – Ratusan hektare sawah di Kabupaten Trenggalek diserang hama wereng seiring fenomena kemarau basah yang melanda wilayah tersebut. Serangan ini menyebabkan tanaman padi di sejumlah titik tampak mengering, meranggas, dan berubah warna menjadi coklat kemerahan.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek, Imam Nurhadi, menyebut bahwa kondisi cuaca saat ini menciptakan iklim yang ideal bagi pertumbuhan dan penyebaran hama.

“Jika diibaratkan, tanaman padi seperti mengalami dehidrasi. Hama wereng mengisap cairan tanaman hingga kering dan mati. Cuaca lembap dengan suhu tinggi mempercepat siklus hidup hama dan mempersulit pengendalian,” ujarnya, Senin (4/8/2025).

Imam menjelaskan, serangan wereng terjadi hampir merata di seluruh kecamatan. Namun, wilayah yang paling parah terdampak adalah Kecamatan Trenggalek, Pogalan, dan Durenan. 

Sementara itu, Kecamatan Suruh, Dongko, dan Kampak relatif lebih tahan terhadap serangan tersebut.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Khairul Anam, menambahkan bahwa hingga akhir Juli 2025, total luas sawah yang terserang mencapai 161,4 hektare, dengan 32,3 hektare dinyatakan puso atau gagal panen.

“Banyak petani di Kecamatan Trenggalek yang tidak bisa panen sama sekali. Di wilayah lain, sebagian memilih panen lebih dini untuk menyelamatkan malai padi yang belum sepenuhnya berkembang,” ungkap Anam.

Menurutnya, penyebab meluasnya serangan wereng selain faktor cuaca adalah pola tanam yang tidak serempak serta penggunaan pupuk nitrogen (N) yang berlebihan, yang membuat tanaman menjadi lebih rentan.

Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pertanian mengimbau petani untuk mengganti varietas padi pada musim tanam berikutnya guna memperlambat adaptasi hama. 

Selain itu, penggunaan pupuk N juga diminta dikurangi karena unsur tersebut sebenarnya sudah cukup tersedia di alam.

Petugas penyuluh saat ini disiagakan penuh untuk memantau kondisi lapangan dan memberikan edukasi kepada petani guna menekan risiko kerugian lebih lanjut.

Berita Lainnya