Networkpedia.id – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur memasang kamera jebak atau camera trap di kawasan Hutan Kota (Huko) Trenggalek, Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Jumat (30/1/2026).
Langkah ini dilakukan untuk memantau keberadaan satwa liar, khususnya burung Paok Pancawarna yang merupakan satwa dilindungi sekaligus endemik Pulau Jawa dan Bali.
Kamera jebak tersebut dipasang pada salah satu pohon dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter dari permukaan tanah. Penempatan ini disesuaikan dengan karakter Paok Pancawarna yang dikenal sebagai burung penghuni lantai hutan.
Polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Timur, Akhmad David Kurnia, menjelaskan pemasangan kamera bertujuan mendokumentasikan satwa liar yang ada di kawasan tersebut sekaligus mendukung rencana pengembangan wisata minat khusus, seperti bird watching.
“Target utama kami adalah Paok Pancawarna karena statusnya dilindungi dan endemik Jawa-Bali. Ke depan, keberadaan burung ini bisa menjadi daya tarik wisata pengamatan burung,” ujar David.
Meski dalam sepekan pemantauan burung Paok Pancawarna belum terekam kamera, hasil yang diperoleh tetap dinilai positif. Camera trap justru menangkap keberadaan sejumlah satwa liar lain yang juga dilindungi.
“Yang terekam ada sepasang landak Jawa (Hystrix javanica), kemudian monyet ekor panjang, serta musang pandan. Ini menunjukkan bahwa ekosistem di Hutan Kota Trenggalek masih cukup baik,” jelasnya.
Menurut David, keberadaan berbagai jenis satwa tersebut menjadi indikator keseimbangan ekosistem. Musang pandan, misalnya, berperan sebagai omnivora yang membantu menjaga rantai makanan tetap stabil.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil inventarisasi BBKSDA, Paok Pancawarna sejatinya memang hidup di kawasan hutan kota tersebut. Bahkan, suaranya masih kerap terdengar oleh petugas saat melakukan pemantauan lapangan.
“Kami yakin burung itu ada. Suaranya sering terdengar, hanya saja belum berhasil terekam kamera. Karena itu pemantauan akan terus dilakukan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Peningkatan Daya Tarik dan Destinasi Wisata Disparbud Trenggalek, Toni Widianto, menyambut baik hasil pemantauan BBKSDA.
Menurutnya, temuan ini memperkuat potensi Hutan Kota Trenggalek sebagai destinasi wisata edukasi berbasis lingkungan.
“Ini kabar baik bagi kami. Keanekaragaman hayati yang ada bisa menjadi sarana edukasi, khususnya bagi pelajar,” kata Toni.
Ia menambahkan, pihaknya berencana menggandeng BBKSDA untuk mengembangkan wisata edukasi sekaligus mengajak masyarakat berperan aktif menjaga kelestarian hutan kota.
“Hutan kota ini unik karena sejak awal memang berupa hutan alami, bukan buatan. Tinggal kita rawat bersama agar tetap lestari dan memberi manfaat bagi generasi mendatang,” pungkasnya.




