Networkpedia.id – Harga komoditas kedelai impor di pasar tradisional Kabupaten Trenggalek mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
Di sisi lain, ketersediaan kedelai lokal dilaporkan kosong di pasaran. Kondisi ini berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan, terutama menurunnya omzet penjualan para pedagang.
Salah satu pedagang kedelai di Pasar Basah Trenggalek, Rini, mengatakan kenaikan harga terjadi cukup signifikan dibandingkan sebelumnya. Ia menyebut kondisi ini mulai dirasakan sejak beberapa waktu terakhir.
“Kondisinya ya naik mahal,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Rini menjelaskan, harga kedelai impor dari distributor kini mencapai Rp 10.400 per kilogram. Sementara itu, harga jual di tingkat konsumen berada di kisaran Rp 11.000 hingga Rp 12.000 per kilogram. Angka tersebut mengalami kenaikan dibanding harga sebelumnya yang masih berada di level Rp 9.400 per kilogram.
“Sebelumnya cuma Rp 9.400,” tambahnya.
Menurutnya, kenaikan harga hanya terjadi pada kedelai impor yang saat ini masih tersedia di pasaran. Sementara untuk kedelai lokal, stoknya justru tidak ditemukan sama sekali.
“Kedelai impor ada, kalau kedelai lokal enggak ada,” jelasnya.
Meski pasokan kedelai impor masih aman, lonjakan harga tersebut berdampak pada daya beli masyarakat. Rini mengungkapkan jumlah pembeli mengalami penurunan karena harga yang dinilai semakin mahal.
“Pembeli cenderung menurun, soalnya naik,” ungkapnya.
Ia mengaku, saat harga kedelai masih stabil, dirinya mampu menjual hingga 10 kilogram per hari, bahkan bisa lebih. Namun, kondisi saat ini membuat penjualan menjadi tidak menentu dan cenderung menurun.
“Kalau sekarang belum pasti setiap hari bisa jual,” katanya.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang, terutama di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Kenaikan harga komoditas bahan pokok seperti kedelai turut memengaruhi aktivitas konsumsi sehari-hari.
Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin akan berdampak lebih luas, termasuk pada pelaku usaha berbasis kedelai seperti produsen tahu dan tempe yang sangat bergantung pada kestabilan harga dan pasokan bahan baku.



