Angka Kelahiran Trenggalek Terkendali, TFR di Bawah Target Nasional

Photo of author

By Redaksi

Networkpedia.id – Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Trenggalek dinilai dalam kondisi terkendali. Hal tersebut tercermin dari capaian angka total fertility rate (TFR) atau angka kesuburan total yang berada di angka 1,86 anak per perempuan. 

Capaian ini lebih rendah dibandingkan target TFR nasional yang ditetapkan sebesar 2,1 anak per perempuan.

Rendahnya angka TFR tersebut tidak terlepas dari meningkatnya prevalensi keluarga berencana (KB) di Kabupaten Trenggalek dari tahun ke tahun, khususnya pada penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP).

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes Dalduk KB) Kabupaten Trenggalek, dr. Bakhtiar Arifin, menjelaskan bahwa pada tahun 2024 prevalensi KB aktif MKJP mencapai 20,1 persen. Angka tersebut kembali mengalami kenaikan pada tahun 2025 menjadi 20,91 persen atau naik sekitar delapan persen.

“Pada tahun 2024 jumlah pasangan usia subur di Trenggalek sebanyak 116.716 pasangan dengan peserta MKJP sebanyak 16.915 pasangan. Sementara pada tahun 2025, pasangan usia subur tercatat 114.111 pasangan dan peserta MKJP sebanyak 16.887 pasangan,” ujar Bakhtiar, Jumat (9/1/2026).

Berdasarkan data tren penggunaan alat kontrasepsi selama periode 2024 hingga 2025, metode suntik masih menjadi pilihan utama masyarakat meskipun mengalami penurunan. Pada tahun 2024, penggunaan kontrasepsi suntik mencapai 55,34 persen, lalu turun menjadi 53,83 persen di tahun 2025.

Sementara itu, penggunaan pil KB terpantau relatif stabil dengan sedikit kenaikan dari 16,90 persen menjadi 16,96 persen. Tren positif juga terlihat pada metode kontrasepsi jangka panjang, khususnya implan yang meningkat dari 9,75 persen pada 2024 menjadi 10,10 persen pada 2025.

Selain itu, penggunaan kondom juga mengalami peningkatan dari 7,72 persen menjadi 8,24 persen. Sebaliknya, penggunaan IUD mengalami penurunan tipis dari 7,47 persen menjadi 6,87 persen. Untuk metode operasi wanita (MOW), persentasenya relatif stagnan di kisaran 3,2 persen.

Adapun metode operasi pria (MOP) dan metode amenore laktasi (MAL) masih menjadi pilihan paling rendah dengan persentase di bawah satu persen dan cenderung menurun.

“Dari data ini terlihat adanya pergeseran minat masyarakat. Meski metode suntik masih mendominasi, trennya menurun, sementara penggunaan pil, implan, dan kondom cenderung meningkat,” pungkas Bakhtiar.

Berita Lainnya