Kasus ODGJ di Trenggalek Didominasi Laki-laki, Tekanan Ekonomi dan Sosial Jadi Faktor Utama

Photo of author

By Redaksi

Networkpedia.id – Kasus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Trenggalek hingga saat ini masih didominasi oleh laki-laki. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, terutama tekanan psikologis akibat beban ekonomi dan sosial yang tidak tersalurkan dengan baik.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Trenggalek, dr. Sunarto, mengatakan secara psikologis laki-laki cenderung lebih tertutup dan jarang mengungkapkan permasalahan yang dihadapi. 

Akibatnya, tekanan dan stres sering dipendam dalam jangka waktu lama hingga berujung pada gangguan mental.

“Laki-laki ini cenderung introvert dan jarang bercerita. Masalah dipendam sendiri sehingga stresnya terus menumpuk,” ujar dr. Sunarto, Senin (12/1/2026).

Ia menjelaskan, tuntutan sebagai pencari nafkah utama turut memperberat beban mental laki-laki. Selain tanggung jawab ekonomi keluarga, tekanan pekerjaan dan tuntutan lingkungan sosial juga menjadi faktor berlapis yang memengaruhi kondisi emosional.

“Di rumah dituntut mencukupi kebutuhan, di kantor ditekan atasan, di lingkungan sosial juga ada tuntutan. Ini sangat berpengaruh pada kesehatan mental,” jelasnya.

dr. Sunarto menambahkan, stres yang tidak tertangani dapat menimbulkan gangguan fisik atau psikosomatis. 

Gejalanya antara lain sulit tidur, gangguan lambung, jantung berdebar, sering buang air kecil, hingga penurunan nafsu makan. 

Jika kondisi tersebut tidak ditangani dengan baik, stres dapat berkembang menjadi gangguan jiwa berat.

“Kalau tidak disalurkan, tidak sharing, dan tidak mencari bantuan profesional, bisa berlanjut hingga ODGJ,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendukung proses pengobatan dan pencegahan gangguan jiwa. Pendampingan keluarga dinilai sangat membantu dalam mendeteksi permasalahan psikologis pasien secara menyeluruh.

“Sering kali penyakit bukan murni karena faktor fisik, tapi stres yang dominan. Di sinilah peran keluarga sangat penting,” ujarnya.

Terkait data, dr. Sunarto menyebut jumlah ODGJ di Trenggalek relatif stabil setiap tahun, berkisar antara 1.000 hingga 1.500 orang. 

Dari jumlah tersebut, ODGJ laki-laki tercatat sebanyak 943 orang, sedangkan perempuan sebanyak 567 orang.

Stabilnya angka tersebut, menurutnya, dipengaruhi sifat ODGJ yang termasuk penyakit kronis serta upaya pencegahan melalui skrining kesehatan jiwa sejak dini. 

Skrining dilakukan pada berbagai kelompok usia, mulai anak sekolah, lansia, hingga masyarakat di posyandu.

“Gangguan mental ringan bisa dideteksi lebih awal agar tidak berkembang menjadi ODGJ,” pungkasnya.

Berita Lainnya