Networkpedia.id – uasana malam di kawasan Pasar Pon Trenggalek mulai menuai keluhan dari pengunjung dan pedagang. Hal ini dipicu oleh maraknya pengamen dan pengemis yang silih berganti menghampiri para pengunjung angkringan dan area publik sekitar pasar.
Salah satu pengunjung, Marselo, mengaku terganggu dengan frekuensi kedatangan pengamen yang dinilainya terlalu sering dan mengurangi kenyamanan saat bersantai.
“Rasanya kurang pas. Tempat ini kan seharusnya untuk santai dan ngobrol ringan, tapi hampir tiap 15 menit ada pengamen datang. Kalau cuma satu atau dua ndak masalah, tapi ini terlalu sering,” ujar Marselo.
Ia berharap kondisi tersebut bisa segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait, mengingat Pasar Pon telah menjadi salah satu ikon Trenggalek yang aktif dari pagi hingga malam hari.
“Pasar Pon ini sudah dikenal luas. Pagi jadi pusat belanja, malam jadi pusat kuliner dan ruang interaksi. Kalau pengunjung terganggu, bisa saja mereka enggan kembali,” tambahnya.
Keluhan juga datang dari Hilmi, pedagang angkringan di sekitar pasar. Ia menyebut dalam satu malam bisa didatangi lebih dari sepuluh pengamen, yang membuat suasana menjadi kurang nyaman.
“Dalam semalam bisa 10 pengamen datang. Pengunjung jadi merasa terganggu, suasananya jadi semrawut. Ini berdampak ke penjualan juga,” tutur Hilmi.
Menurutnya, tak sedikit pembeli yang merasa tidak enak hati saat didatangi pengamen dan terpaksa memberi uang. Hilmi pun berharap ada solusi jangka panjang dari pemerintah daerah.
“Kalau bisa, pemerintah kasih ruang khusus buat pengamen. Misalnya dibuat program seperti ‘Love Music Pengamen’ yang digelar rutin. Jadi mereka tidak cuma ngamen, tapi punya tempat mengekspresikan kreativitas,” usulnya.
Hilmi menambahkan, sebagian pengamen berasal dari luar Trenggalek dan menggunakan alat musik sederhana. Hingga kini, ia belum melihat ada penertiban resmi dari pihak berwenang di kawasan tersebut.




