Produksi Sampah Warga Trenggalek Capai 0,4 Kg per Hari, DLH Dorong Pengelolaan dari Rumah

Photo of author

By Redaksi

Networkpedia.id – Produksi sampah masyarakat Kabupaten Trenggalek terus menjadi perhatian serius. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Trenggalek mencatat rata-rata setiap warga menghasilkan sekitar 0,4 kilogram sampah per hari. Angka tersebut mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk wilayah kota kecil.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Bahan Berbahaya dan Beracun DLH Trenggalek, Fahmi Rizab Syamsudi, menjelaskan bahwa sebagian besar sampah berasal dari aktivitas rumah tangga, seperti sisa makanan dan kemasan plastik.

“Setiap orang itu kalau berdasarkan penelitian dari SNI, menghasilkan sampah sekitar 0,4 kilogram per hari,” ujarnya.

DLH mencatat, volume sampah di Trenggalek mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2024, total sampah mencapai 33.469 ton, sementara pada 2025 meningkat menjadi 37.427 ton. Kenaikan ini dipengaruhi berbagai faktor, termasuk meningkatnya aktivitas masyarakat saat momen tertentu seperti Ramadan dan Lebaran, serta pertumbuhan sektor perdagangan dan UMKM.

Menurut Fahmi, pola konsumsi masyarakat yang semakin praktis turut memperparah kondisi tersebut. Penggunaan makanan dan minuman berkemasan, termasuk layanan pesan antar, menjadi penyumbang signifikan terhadap peningkatan volume sampah.

“Budaya praktis sekarang ini, seperti makanan dan minuman berkemasan, termasuk layanan pesan antar, turut menambah volume sampah,” jelasnya.

Sebagai upaya pengendalian, DLH mendorong masyarakat untuk mulai mengelola sampah dari rumah. Sampah organik diharapkan dapat diolah menjadi kompos atau pakan ternak, sementara sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang atau disalurkan ke bank sampah.

Jika pengelolaan dilakukan secara optimal, lanjut Fahmi, sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seharusnya hanya sekitar 20 persen dari total produksi harian.

Selain itu, DLH juga terus mengampanyekan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, terutama jenis yang sulit didaur ulang seperti kantong plastik kresek, styrofoam, sedotan plastik, dan kemasan mika.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk beralih ke alternatif ramah lingkungan, seperti sedotan bambu dan kemasan yang dapat digunakan ulang. Langkah ini diharapkan mampu menekan volume sampah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di Trenggalek.

Berita Lainnya