Networkpedia.id – Penetapan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina, Riva Siahaan, sebagai tersangka dalam dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang periode 2018-2023 berdampak pada tren konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di masyarakat.
Salah satu efeknya terlihat di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Terminal Surodakan, di mana konsumsi Pertamax mengalami penurunan signifikan.
Kepala SPBU Surodakan, Kurniarti Baskoro Edi, mengungkapkan bahwa setelah kabar tersebut mencuat, jumlah konsumen Pertamax mengalami penurunan drastis dalam dua hari terakhir.
“Pasca kejadian itu, tren konsumen menurun. Biasanya omzet harian mencapai 4,2-4,5 ton per hari, sekarang hanya sekitar 2,2-2,4 ton per hari,” ujar Kurniarti.
Sebaliknya, konsumsi BBM bersubsidi, Pertalite, mengalami peningkatan meskipun tidak terlalu signifikan. Kenaikan tersebut tercatat sekitar 500-600 liter atau sekitar 0,5 ton per hari.
“Ada peningkatan, tapi tidak begitu signifikan. Rata-rata konsumsi harian Pertalite kini mencapai 11-12 ton. Apalagi kita hanya punya satu dispenser dengan dua nozel, sehingga antrean cukup panjang,” jelasnya.
Terkait isu dugaan pengoplosan Pertamax dengan Pertalite yang menyeret nama Dirut Pertamina, Kurniarti menegaskan bahwa pihaknya hanya bisa mengecek kualitas bahan bakar melalui metode Quality and Quantity (QnQ).
Namun, metode ini tidak dapat mendeteksi kandungan bahan bakar secara mendetail, termasuk angka Research Octane Number (RON).
“Pengecekan RON membutuhkan alat khusus yang tidak kami miliki. Di SPBU, kami hanya mengukur suhu dan densitas BBM melalui metode QnQ. Kami hanya memesan ke Pertamina satu hari sebelumnya, lalu BBM dikirim keesokan harinya,” terangnya.
Meski isu korupsi ini sempat mengguncang kepercayaan masyarakat, distribusi BBM di SPBU Surodakan masih berjalan lancar. Proses pemesanan dan pengiriman BBM tetap stabil, dengan stok cadangan rata-rata mencapai 10 ton per hari.
“Distribusi masih berjalan normal, tidak ada kendala dalam pemesanan maupun pengiriman BBM,” pungkasnya.




