Networkpedia.id – Ketua Komisi II DPRD Trenggalek, Mugianto, memimpin rapat evaluasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mitra, perwakilan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta instansi pendukung seperti Dinas Pariwisata dan Bank Jatim.
Evaluasi ini bertujuan mengidentifikasi kebocoran pendapatan dan mendorong optimalisasi PAD dari sektor-sektor potensial tanpa membebani masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut, Mugianto menyoroti pentingnya perbaikan kinerja BUMD yang dinilai masih belum sehat secara manajerial dan kontribusinya terhadap PAD masih minim.
Salah satu temuan mengejutkan berasal dari evaluasi terhadap PT JET, BUMD milik Pemkab Trenggalek yang mengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
“SPBU ini memiliki perputaran penjualan BBM mencapai Rp 60,9 miliar sepanjang tahun 2024, namun kontribusinya ke PAD hanya Rp 100 juta. Padahal modal dan aset yang dikelola mencapai Rp 13,1 miliar,” ungkap Mugianto.
Selain itu, kontribusi dividen dari Bank Jatim juga turut dievaluasi. Hingga saat ini, besaran dividen tahun 2025 belum ditentukan karena Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) baru akan dilaksanakan pada Mei mendatang.
Meski begitu, Mugianto mendorong agar Bank Jatim juga aktif dalam memperluas pembiayaan bagi pelaku UMKM di Trenggalek.
“Debitur UMKM di Bank Jatim Trenggalek baru sekitar 2.600. Kami minta ada sosialisasi lebih masif tentang kredit ringan agar ekonomi daerah semakin hidup,” katanya.
Sektor pariwisata pun tak luput dari perhatian. Mugianto menekankan perlunya modernisasi sistem pengelolaan destinasi wisata melalui penerapan e-ticketing dan e-money guna mengurangi potensi kebocoran retribusi.
“Kami ingin empat destinasi wisata baru bisa ditarik retribusinya dengan sistem elektronik. Target kami, PAD dari sektor ini bisa mencapai Rp 15 miliar tahun depan,” ujarnya.
Rapat evaluasi ini menjadi bagian dari langkah DPRD mendorong efisiensi pengelolaan anggaran dan peningkatan PAD secara berkelanjutan.




