Networkpedia.id – Pemerintah Kabupaten Trenggalek bersama berbagai komunitas perkerisan menggelar Pameran Keris selama tiga hari berturut-turut, mulai Selasa hingga Kamis (25–27 November) di Pendopo Manggala Praja Nugraha. Agenda ini diselenggarakan untuk memperingati 20 tahun penetapan Keris sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.
Pembukaan pameran berlangsung meriah, terlebih ketika Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin menerima titipan keris milik Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto serta dua keris milik Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.
Usai menerima simbol budaya tersebut, Bupati yang akrab disapa Mas Ipin itu menegaskan bahwa keris adalah bukti bahwa peradaban bangsa Indonesia sejak dahulu telah mencapai kemajuan teknologi yang tinggi.
Menurutnya, proses pembuatan keris jauh dari sederhana. Penempaan logam dilakukan melalui teknik yang kompleks, melibatkan besi dan berbagai campuran bahan lainnya untuk menghasilkan pola pamor yang khas.
“Keris ini menjadi pertanda bahwa Indonesia memiliki sejarah sebagai bangsa yang maju. Proses penempaannya menunjukkan kemampuan metalurgi yang luar biasa,” ujarnya.
Mas Ipin menjelaskan bahwa kemampuan metalurgi ilmu tentang pengolahan logam pada masa lampau merupakan penanda tingginya peradaban suatu masyarakat.
Ia menekankan bahwa seni keris tak hanya terlihat dari bentuk bilahnya, tetapi juga tampak pada pengerjaan warangka dari kayu, gading, hingga tulang, serta ornamen kinatah emas atau batuan berharga yang menambah nilai artistik.
Lebih jauh, Bupati menilai keris bukan hanya benda seni, melainkan juga karya yang memuat nilai spiritualitas dan filosofi Nusantara.
Ia menegaskan pentingnya pelestarian keris di tengah kompetisi global, di mana banyak negara kini berlomba menggali dan menonjolkan warisan budaya masing-masing.
“Negara lain pun sekarang juga sudah berlomba-lomba menggali culture heritage mereka, meskipun tidak sebanyak yang dimiliki Indonesia,” katanya.
Melalui pameran ini, Pemkab Trenggalek berharap masyarakat semakin memahami kekayaan budaya yang dimiliki bangsa dan turut menjaga warisan tersebut agar tetap lestari.
Pemeran keris ini juga diharapkan menjadi ruang edukasi bagi generasi muda mengenai sejarah, seni, dan teknologi tradisional yang lahir dari kearifan lokal.




