Networkpedia.id – Sosok di balik layar film dokumenter Tambang Emas Ra Ritek yang meraih Anugerah Festival Film Indonesia 2025 kini resmi menahkodai organisasi pergerakan mahasiswa di Kabupaten Trenggalek. Beni Kusuma Wardani terpilih sebagai Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Trenggalek melalui Konferensi Cabang (Konfercab) ke-17 yang digelar secara aklamasi, Rabu (18/02/2026).
Beni, yang dikenal sebagai kameramen dokumenter dengan kepekaan sosial tinggi, mengungkapkan bahwa keputusannya maju sebagai ketua didorong oleh pengalaman organisasi serta dukungan kuat dari kader PMII Trenggalek. Ia menilai momentum saat ini menuntut PMII untuk lebih responsif terhadap dinamika sosial dan kebijakan publik yang berkembang cepat.
Menurut Beni, program internal dan eksternal PMII Trenggalek tidak bisa dipisahkan. Kaderisasi internal harus dirancang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat sebagai ruang pengabdian eksternal. Ia menegaskan bahwa perubahan zaman yang begitu cepat menuntut organisasi mahasiswa untuk terus menyesuaikan diri.
“Kami berkomitmen menyiapkan kader-kader PMII Trenggalek yang siap berkontribusi langsung ke masyarakat. Itu hanya bisa dilakukan jika kaderisasi mampu menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Lebih jauh, Beni menekankan pentingnya budaya belajar yang berkelanjutan di kalangan kader. Menurutnya, dinamika sosial dan politik hari ini sangat kontras dan penuh tantangan. Banyak kebijakan negara yang, kata dia, perlu dikritisi secara tajam dan objektif oleh PMII.
Ia menyoroti sejumlah persoalan di sektor pendidikan, mulai dari nasib guru yang belum sejahtera, kebijakan makan bergizi gratis yang berdampak pada anggaran pendidikan, hingga wacana sekolah rakyat yang dinilai perlu dikaji ulang urgensinya.
Tak hanya itu, Beni juga menyinggung kebijakan tata ruang yang dinilai problematik, seperti pembukaan kawasan pertambangan, program food estate, hingga rencana pendirian puluhan gerai KDMP di Trenggalek yang berada di atas Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan Lahan Sawah Dilindungi tanpa kajian tata ruang yang jelas.
“Terkadang kebijakan negara terlihat aneh-aneh, sementara masyarakat membutuhkan waktu untuk memahami dan menyikapinya. Di situlah peran PMII harus hadir,” tegasnya.
Ke depan, Beni menilai tantangan kaderisasi PMII juga terletak pada pola komunikasi, terutama dengan kader baru dari generasi Z. Ia menyadari bahwa setiap angkatan memiliki budaya komunikasi yang berbeda, sehingga pendekatan yang sederhana namun substansial menjadi kunci.
Dengan latar belakang seni visual dan pengalaman advokasi, Beni diharapkan mampu membawa PMII Trenggalek menjadi organisasi yang adaptif, kritis, dan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.




