Networkpedia.id – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Ahli Gizi Indonesia Kabupaten Trenggalek menegaskan tidak terlibat secara langsung dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski demikian, organisasi profesi tersebut tetap berperan melalui pembinaan dan pendampingan kepada para ahli gizi yang bertugas di dapur MBG.
Ketua DPC PERSAGI Trenggalek, Rio Ardi Virgianto, menjelaskan bahwa keterlibatan organisasi lebih bersifat tidak langsung. PERSAGI, kata dia, berfokus pada penguatan kapasitas anggotanya yang tersebar di berbagai dapur MBG di wilayah Trenggalek.
“Secara organisasi kami tidak terlibat langsung dalam MBG. Tapi kami membina anggota kami yang ada di dapur MBG, karena hampir semua dapur MBG di Trenggalek terdapat anggota kami,” ujarnya.
Menurut Rio, PERSAGI tidak melakukan evaluasi formal terhadap pelaksanaan program MBG. Namun, pihaknya aktif melakukan diskusi dan berbagi pengetahuan dengan anggota, terutama dalam aspek penyelenggaraan makanan dan penerapan ilmu gizi di lapangan.
“Kalau evaluasi secara langsung tidak. Kami lebih ke sharing, apa yang kurang, apa yang perlu ditanyakan. Biasanya terkait penyelenggaraan makanan dan hal teknis lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan pendampingan tersebut juga mencakup penguatan organisasi dan profesionalisme anggota, termasuk bagi tenaga ahli gizi yang baru bergabung melalui program MBG.
“Banyak anggota baru yang bergabung karena terlibat di MBG. Jadi kami juga berbagi terkait organisasi, keprofesian, dan keilmuan,” imbuhnya.
Berdasarkan data PERSAGI Trenggalek, saat ini terdapat sekitar 125 anggota yang terdaftar. Namun, sebagian besar dari mereka bekerja di sektor layanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik swasta, sementara hanya sebagian yang terlibat langsung di dapur MBG.
Rio juga mengakui pihaknya belum dapat memastikan apakah jumlah tenaga ahli gizi di Trenggalek sudah mencukupi. Hal ini karena tidak semua lulusan gizi bergabung dalam organisasi atau langsung bekerja di instansi kesehatan.
“Kami tidak bisa menghitung yang tidak masuk organisasi, seperti lulusan baru yang belum bergabung atau belum bekerja,” pungkasnya.
Pernyataan ini menegaskan peran PERSAGI sebagai mitra profesional yang mendukung kualitas layanan gizi, meski tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan program MBG.




