Networkpedia.id – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat, meskipun jumlah kasus di sejumlah daerah menunjukkan tren penurunan. Perubahan pola gejala penyakit ini membuat deteksi dini menjadi kunci utama dalam mencegah kondisi yang lebih parah, terutama pada anak-anak.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek, dr. Sunarto, menjelaskan bahwa gejala DBD saat ini tidak selalu muncul secara khas seperti yang dikenal masyarakat sebelumnya. Demam tinggi yang naik turun, bintik merah, atau perdarahan tidak selalu menjadi tanda awal.
“Sekarang gejalanya bisa menyerupai penyakit infeksi lain, seperti batuk, pilek, atau perut kembung. Bahkan ada yang hanya demam biasa, tapi ternyata sudah terinfeksi dengue,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat masyarakat kerap terlambat menyadari bahaya DBD. Padahal, keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi, termasuk syok dan kematian. Oleh karena itu, pemeriksaan dini sangat dianjurkan, terutama jika demam berlangsung lebih dari dua hingga tiga hari.
Salah satu metode yang efektif untuk mendeteksi DBD sejak awal adalah pemeriksaan laboratorium Non Structural Protein 1 (NS1). Pemeriksaan ini mampu mengidentifikasi virus dengue pada fase awal infeksi, bahkan sebelum gejala berat muncul.
“Dengan pemeriksaan NS1, DBD bisa diketahui lebih cepat sehingga penanganan bisa segera dilakukan,” jelas dr. Sunarto.
Ia menegaskan, anak-anak yang mengalami demam sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Meski belum muncul tanda-tanda seperti mimisan atau bintik merah, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi pasien.
Data menunjukkan bahwa kasus DBD masih dapat terjadi sepanjang tahun, meskipun cenderung meningkat pada musim tertentu. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan, meski kasus pada orang dewasa juga cukup tinggi.
Faktor lain yang memperberat kondisi adalah infeksi dengue berulang dengan tipe virus yang berbeda, yang dapat memicu reaksi lebih berat.
Selain kewaspadaan medis, upaya pencegahan tetap menjadi kunci utama.
Pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus—menguras, menutup, dan mendaur ulang—serta menjaga kebersihan lingkungan perlu terus digalakkan.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak menyepelekan demam, terutama pada anak.
Dengan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan lebih awal dan menjaga lingkungan tetap bersih, risiko DBD dapat ditekan dan dampak fatal dapat dihindari.




